||| Kritik, saran, informasi, kirim artikel atau informasi pemasangan iklan dapat dilayangkan kepada kami melalui halaman Kontak Admin atau email ke lirboyonet@gmail.com |||

Beranda » Pondok Cabang Lirboyo » Sekilas Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien
Siswa MHM Lirboyo

Sekilas Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien

Sebelum berdirinya Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM), pengajian yang terdapat di Pondok Pesantren Lirboyo memakai sistem bandongan, sorogan dan weton. Akan tetapi, metode semacam ini dinilai kurang efektif dan sulit dipahami bagi kalangan pemula, terlebih ketika jumlah santri semakin meningkat. Dan sekitar tahun 1925, pihak pesantren berinisiatif merubah metode pembelajaran ke sistem klasikal dengan mendirikan MHM.

Berdirinya MHM ini sangat direstui oleh KH. Abdul Karim. Suatu ketika beliau pernah menitipkan pesan kepada semua santri dengan bahasa yang sederhana, “Santri-santri kang durung bisa maca lan nulis kudu sekolah (Para santri yang belum bisa membaca dan menulis harus mengikuti sekolah)”. Inilah dawuh beliau yang menjadi nafas pendidikan di Pondok Pesantren Lirboyo dan masih tetap diabadikan ke dalam Tata Tertib Pondok Pesantren Lirboyo hingga saat ini. Di samping itu, nama madrasah ini yang berarti Madrasah ‘Petunjuk bagi Pemula’ juga diharapkan para santri yang masuk madrasah ini selalu memiliki sikap rendah hati dan senantiasa terus mengaji dan belajar sepanjang hayatnya.

Pada tahun-tahun pertama berdiri, MHM mengalami banyak kendala. Selain kurang berminatnya para santri memasuki pendidikan madrasah, juga dilatar belakangi bahwa metode madrasah kala itu merupakan sistem pendidikan yang masih asing dalam dunia pesantren. Sehingga wajar, meskipun setelah bergonti-ganti pengurus kinerja MHM belum bisa maksimal sesuai yang diharapkan. Bahkan pada tahun 1931, MHM mengalami kevakuman.

Meskipun demikian, jangka waktu selama 6 tahun terhitung sejak tahun 1925-1931 itu, menghasilkan beberapa pengalaman yang cukup berharga. Diantaranya adalah madrasah sudah terklasifikasi menjadi beberapa lokal.

Masa selanjutnya MHM yang semula jatuh bangun bangkit dan dibuka kembali secara resmi pada malam Rabu bulan Muharram tahun 1353 H., bertepatan dengan tahun 1933 Masehi. Dan demi memperlancar lajunya metode pendidikan madrasah, maka setiap siswa dipungut sumbangan sebesar lima sen setiap bulan.

Tahun 1941, dibentuklah divisi yang khusus mengkoordinir diskusi atau musyawarah siswa MHM/ santri. Divisi yang sampai sekarang masih eksis ini diberi nama Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-Ien (M3HM). Ketika itu jenjang pendidikan MHM baru memiliki dua tingkatan, siffir dan ibtidaiyyah.

Setelah mengalami perubahan kurikulum beberapa kali, saat ini MHM memiliki empat tingkatan: idadiyah (1 tahun), ibtidaiyyah (6 tahun), tsanawiyah (3 tahun), dan aliyah (3 tahun). Tingkat idadiyah tersebut semacam kelas persiapan. Artinya, dikarenakan pendaftaran siswa baru MHM selain tingkat idadiyah hanya bisa dilakukan pada awal tahun (bulan syawal), maka bagi santri baru yang datang setelah syawal akan masuk di kelas persiapan ini. Menunggu sampai pendaftaran tahun ajaran baru dibuka. Dan perlu disampaikan bahwa siswa baru MHM hanya bisa daftar untuk masuk di kelas 1-4 ibtidaiyah, 1 tsanawiyah, dan 1 aliyah dengan terlebih dahulu mengikuti serangkaian tes ujian masuk yang diselenggarakan MHM.

Sedangkan berbicara metode dalam MHM, secara umum, metode yang digunakan oleh para guru (di Lirboyo seorang wali kelas biasa disebut dengan mustahiq) dalam menyampaikan pelajaran cukup bervariasi. Diantaranya metode ceramah (menerangkan secara menyeluruh), demonstrasi (praktek), tanya jawab dan penugasan untuk menerangkan pelajaran yang telah lewat pada siswa. Satu metode atau lebih terkadang digunakan untuk mengajarkan satu mata pelajaran secara saling melengkapi.

Muhafadzoh MHM

Siswa MHM sedang mengikuti Evaluasi Hafalan Nadzom/ Muhafadzah Umum sebagai persyaratan mengikuti semester genap dan naik tingkatan.

Pengajaran materi fikih, semisal bab wudlu, sholat, haji, tentu kurang efektif jika hanya menerapkan metode ceramah. Metode semacam ini perlu diperkuat dengan metode demonstrasi, praktek dan tanya jawab. Dengan begitu proses belajar-mengajar lebih menarik dan guru bisa mengetahui seberapa pemahaman dan kemampuan siswa dalam mengaplikasikan pemahamannya.

Dan sebagaimana lembaga pendidikan di luar pesantren, MHM juga rutin melakukan evaluasi terhadap kemampuan para siswanya. Jenis evaluasi yang digunakan setidaknya ada  lima macam :

  1. Evaluasi Harian; evaluasi ini dilakukan sehari-har
    i oleh pengajar terhadap materi yang diajarkan, baik berbentuk lisan atau tulisan. Di MHM evaluasi semacam ini biasa disebut muraja’ah.
  2. Evaluasi Mingguan; evaluasi ini diadakan setiap minggu oleh pengajar secara tertulis terhadap materi yang diajarkan. Evaluasi ini biasa disebut tamrin.
  3. Evaluasi pertengahan tahun dan akhir tahun; evaluasi ini diadakan setiap pertengahan tahun dan akhir tahun secara tertulis terhadap materi yang diajarkan. Jenis ini biasa disebut semester ganjil dan genap.
  4. Evaluasi/ koreksian tulisan (buku dan kitab); evaluasi ini dilakukan dua kali dalam setahun dan lengkapnya tulisan/ materi pelajaran sebagai persyaratan mengikuti semester ganjil dan genap.
  5. Evaluasi hafalan nadzom; evaluasi ini diadakan setahun sekali yang juga sebagai persyaratan semester genap, serta salah satu syarat untuk para siswa agar bisa naik tingkatan.

Begitulah sekilas tentang MHM yang tentu saja ke depan akan terus melakukan perubahan menuju yang lebih baik. Karena Pondok Pesantren Lirboyo yang sejak awal berdirinya adalah sebagai lembaga yang berkonsentrasi memperdalam agama,  maka menjadi keharusan untuk terus memperbaiki kualitas para santrinya agar apa yang dicita-citakan tercapai.

↺ 769 ↻

Santri Ayo Nulis Mari Ngeblog