KH. Marzuqi Dahlan (1906-1975)

KH. Marzuqi Dahlan Lirboyo

Kelahiran dan Latar Keluarga KH. Marzuqi Dahlan

Tahun 1906 M, di sebuah desa teduh di bantaran barat Sungai Brantas, Kediri—Desa Banjarmelati—lahirlah seorang bayi yang kelak menjadi ulama besar dan pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo. Ia diberi nama Marzuqi bin Dahlan, putra bungsu dari empat bersaudara, buah hati pasangan KH. Dahlan dan Nyai Artimah. Sejak kecil, Gus Juki—panggilan akrab KH. Marzuqi semasa kecil—tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama.

Gus Juki tidak banyak melewati masa kecil di desa Jampes—kediaman ayah beliau KH. Dahlan—karena ketika Nyai Artimah—ibu dari Gus Juki—mengandung beliau, sang ibu pulang ke Banjarmlati dan melahirkan Marzuqi kecil di sana.

Baca Juga: Biografi KH. Abdul Karim ( 1856 – 1954 )

Pendidikan Awal KH. Marzuqi Dahlan

Semasa kecil, Gus Juki sudah dibesarkan di lingkungan yang cukup sarat dengan alim ulama. Dari kecil beliau sudah mendapat pengawasan dan bimbingan dari para Kyai, terutama kakeknya, KH. Sholeh Banjarmelati. Kyai Sholeh menjadi guru pertamanya, yang mengajarkan berbagai ilmu dasar agama seperti aqidah, akhlaq dan Al Quran.

Suatu ketika, ketika Gus Juki menginjak usia belajar ayahnya meminta beliau pulang ke Pondok Pesantren Jampes untuk belajar langsung di bawah asuhan sang ayah. Gus Juki menuruti permintaan itu, namun Gus Juki—entah kenapa merasa tidak betah—tak lama kemudian beliau kembali ke Banjarmelati.

Pengembaraan Menuntut Ilmu

Saat menginjak usia muda, Gus Juki melanjutkan pendidikan di Pesantren Lirboyo, di bawah bimbingan pamannya, KH. Abdul Karim. Di sini, ketekunan KH. Marzuqi Dahlan semakin bertambah. Sehingga, dalam waktu yang tidak begitu lama, beliau telah banyak memperoleh ilmu dari KH. Abdul Karim.

Tetapi, sebelun beliau puas meneguk ilmu di Lirboyo, ayahnya sekali lagi meminta beliau untuk pindah ke ke Jampes. Sebagai anak, beliau menuruti kehendak sang ayah. Namun, entah mengapa beliau tidak betah lama-lama tinggal di Jampes. Akhirnya tanpa sepengetahuan ayahnya Gus Juki pergi berkelana menuntut ilmu.

Baca Juga: Biografi KH. Mahrus Aly ( 1907 – 1985 )

Beliau melanjutkan pengembaraan ke berbagai pesantren besar:

  • Pondok Pesantren Tebuireng asuhan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.
  • Pondok Pesantren Mojosari Nganjuk.
  • Pondok Pesantren Bendo Pare asuhan KH. Khozin.

Sekembalinya ke kampung halaman, Gus Juki belajar kepada kakaknya, KH. Ihsan Al-Jampasy, pengarang kitab monumental Shirojut Tholibin dalam bidang tasawuf.

Pernikahan dan Amanat Guru

Tahun 1936 M, menjadi nyatalah isyarat yang Kyai Marzuqi yang beliau dapat saat berziarah di makam Kyai Zainal Abidin dulu. Bahwasanya beliau akan menjadi Kyai di Lirboyo. Yakni Kyai Marzuqi menikah dengan Nyai Maryam binti KH. Abdul Karim—yang masih menjadi saudara misan sendiri—dan menetap di Lirboyo hingga beliaulah yang menngatikan KH. Abdul Karim sebagai pengasuh Pesantren Lirboyo.

Menurut sebuah riwayat, saat menikah dengan Nyai Maryam beliau dijanji oleh KH. Abdul Karim agar tetap mengaji paling tidak selama 30 tahun. Jadi meskipun sudah berkeluarga, beliau masih menyempatkan mengaji ke sana-ke mari.

Pada 1961 M, Nyai Maryam wafat. Untuk menguatkan hati, keluarga menikahkan beliau dengan Nyai Qomariyah, adik bungsu almarhumah Nyai Maryam.

Baca Juga: Kategori: Biografi Masayikh Lirboyo

Sifat dan Kesederhanaan Hidup

Meski telah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Marzuqi Dahlan tetap hidup sederhana. Penampilannya jauh dari kemewahan. Saat bepergian atau berziarah ke makam para wali di sekitar Kediri, beliau lebih memilih mengayuh sepeda pancal. Itupun tidak bagus. Karena onderdilnya tidak komplit dan tentu tidak begitu berharga.

Rumahnya pun sederhana, berdinding bambu. Hingga tahun 1942 M barulah dinding itu diganti tembok. Bahkan, ruang tamunya hanya berisi meja dan kursi kayu panjang seperti diterlantarkan begitu saja.

Ibadah Haji dan Ujung Perjalanan

Pada 1973 M, beliau menunaikan ibadah haji. Setelah melaksanakan ibadah haji, kesehatan beliau seing terganggu. Dua tahun kemudian, kesehatannya mulai menurun. Bulan Syawal 1975, beliau jatuh sakit dan dirawat di RS Bhayangkara, Kediri, selama dua minggu. Karena tak menunjukkan tanda-tanda membaik, keluarga membawa beliau pulang. Keluarga KH. Marzuqi Dahlan berkeinginan, bilamana memang sudah saatnya beliau hendak Allah panggil, biarlah beliau pergi menghadap ke hadirat Allah swt. dengan tenang di tengah-tengah keluarga dan para santri.

Beliau di pindah ke rumah kediaman Lirboyo pada tanggal 17 November, pukul 20.30 WIB. Malam itu juga, seluruh keluarga beliau berkumpul menunggui beliau yang semakin kritis. Sementara itu, para santri tidak henti-hentinya melantunkan ayat-ayat suci dan doa-doa untuk beliau hampir semalam suntuk.

Baca Juga: Kategori: Dawuh Masyayikh

Wafatnya Sang Ulama

Besoknya tepatnya pada selasa, 18 November, 24 Dzulqa’dah/18 November 1975, rupanya Allah swt. telah menggariskan ketentuan-Nya atas beliau. Di pagi yang cerah itu, dengan khusnul khotimah, beliau dipanggil ke hadirat-Nya. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

Tiga Wasiat KH. Marzuqi Dahlan

  1. Semua tata tertib dan peraturan pondok pesantren hendaknya ditegakkan dan dipatuhi dan jangan sekali-kali diubah.
  2. Semua santri harus tetap tekun belajar dan mempertinggi himmah karena demikian itu berarti sadar dan mau menghidupkan budaya belajar ala pondok pesantren.
  3. Beliau amat keberatan jika ada santri yang mengalami musibah atau cobaan hidup lantas mengubah keikhlasan niat menuntut ilmu, bimbang atau bahkan berbelok menjadi keduniawian.

Untuk lebih lengkapnya silahkan baca buku 3 Tokoh Lirboyo.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

One thought on “KH. Marzuqi Dahlan (1906-1975)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses