Home 6 Tulisan Santri 6 Keunggulan Pembelajaran Pesantren Salaf

Keunggulan Pembelajaran Pesantren Salaf

oleh Saiful Asyhad

Ada cibiran terhadap pesantren salaf. Antara lain, menganggap pesantren salaf sebagai lembaga pendidikan kuno, belajar di pesantren membuat masa depan suram karena ijazahnya tidak laku di bursa kerja, dan sebagainya. Benarkah demikian?

Menurut saya, yang berpendapat demikian itu jelas salah paham, bahkan ngawur. Saya yakin, mereka itu tidak tahu secara menyeluruh tentang dunia pesantren. Mungkin mereka hanya melihat oknum santri yang berperilaku menyimpang dari tradisi pesantren. Akhirnya, mereka menggebyah uyah pesantren dengan cibiran seperti itu. Tulisan ini ingin membuktikan sebaliknya. Ternyata pembelajaran di pesantren salaf memiliki keunggulan dibanding lembaga pendidikan formal. Berikut pemaparan keunggulan pesantren salaf dimaksud.

Unggul istiqamah

Keunggulan pertama dari pesantren salaf adalah istiqamah. Santri yang sedang menimba ilmu di pesantren salaf benar-benar dituntut keajegannya hadir di sekolah diniyah. Santri ditoleransi tidak masuk tanpa izin 20 kali saja setahun. Jika setahun maksimal 366 hari dan hari efektif belajar 300 hari setelah dikurangi hari libur, maka persentasi santri ditoleransi membolos maksimal hanya 6,67%. Angka ini dari hitungan 20 : 300 X 100%.

Persentasi ini sangat jauh dengan pendidikan formal di luar pesantren. Contohnya, ketika saya masih kuliah, tolerasi membolos itu diberikan sampai sebesar 20%. Kalau dibandingkan kedua persentasi di atas, maka diperoleh angka 6,67% : 20% atau setara dengan 1 : 3. Sungguh, suatu nilai perbandingan yang sangat menyolok.

Itu belum seberapa. Kalau dibandingkan selisih jumlah hari membolos, tentu akan lebih besar jumlahnya. Tiap tahun, santri di pesantren salaf hanya diberi toleransi membolos sebanyak 20 hari. Berarti, mereka harus masuk per tahun sebanyak 280 hari (300 – 20 atau hari efektif dikurangi hari toleransi membolos). Bandingkan dengan mahasiswa. Toleransi membolos 20% X 300 hari efektif = 60 hari. Berarti mereka setahun hanya masuk 240 (300 – 60) hari. Maka, total selisih hari efektif 280 – 240 = 40 hari. Analisis tadi membuktikan, pesantren unggul dari kuantitas wajib hadir dalam menuntut ilmu di kelas.

Unggul adab

Dunia pesantren sejak dulu dikenal sebagai lembaga pendidikan yang sangat kental dengan adab, sopan santun, tawadu’, dan akhlaaqul kariimah lainnya. Tata pergaulan inilah yang membuat pesantren disegani masyarakat. Dengan bekal akhlak yang mulia itu, tamatan pesantren mudah diterima di masyarakat. Dakwahnya mudah menembus ke tengah-tengah masyarakat dari kelompok apapun dan dari wilayah mana pun.

Keadaan ini tidak mengherankan karena pesantren sudah lekat dengan adab. Misalnya, mulai belajar diawali dengan berdoa, baik untuk dirinya, guru-guru, bahkan pengarang kitab yang sedang dipelajari. Selesai mengaji, santri dibiasakan mencium kitab sebagai tanda cinta pada ilmu di dalamnya. Bahkan, kalau melangkahi kitab atau buku catatan, santri langsung mengambil dan menciumnya sebagai tanda penyesalan.

Itu baru terhadap kitab dan buku catatan. Terhadap guru, santri pun dituntut taat, takdim, dan hormat. Mereka berkeyakinan, ilmu yang sedang mereka timba di pesantren bisa berhasil dengan baik jika guru meridainya. Itu tidak bisa dicapai bila santri berbuat yang tidak sopan dan tingkah tercela lainnya terhadap guru. Rida guru itu kunci keberhasilan santri dalam menuntut ilmu di pesantren.

Situasi itu sangat kontras dengan pendidikan di luar pesantren. Misalnya, oknum siswa dan mahasiswa meremehkan dan melecehkan buku pelajaran. Mereka menekuk catatan kuliah dan meletakkannya di saku celana belakang. Betapa su’ul adab tingkah laku mereka terhadap ilmu.

Kebiasaan tidak menghargai ilmu, juga cenderung merembet pada tindakan meremehkan guru. Mereka menganggap guru sama dengan teman. Rasa hormatnya luntur dan memudar. Bahkan, tidak jarang mereka menantang sang guru berkelahi. Na’uudzubillaah!

Ini semua membuktikan, pesantren lebih unggul adab bersopan santun, beretika, dan bermoral dalam menuntut ilmu dibanding dengan lembaga pendidikan lainnya.

Unggul berkah

Dengan berbekal keunggulan istiqamah dan adab seperti diuraikan di atas, maka muncullah keunggulan berikutnya, yaitu unggul keberkahan ilmu. Artinya, ilmu yang diperoleh santri selama mondok di pesantren salaf lebih bermanfaat, bermakna, dan langgeng.

Keberkahan ini muncul dari penghargaan proses belajar yang diterapkan pesantren salaf. Selama santri menimba ilmu, selalu dibimbing, dihargai keaktifannya, ditakzir kemalasannya, dan lain-lain. Jadi, santri benar-benar mendapat pengamatan yang cermat selama proses belajar mengajar di pesantren. Penilaian santri pun tidak hanya ditentukan dari kepandaian, tapi juga akhlaknya terhadap pengasuh pesantren, guru, maupun sesama santri. Penghargaan proses inilah yang akhirnya berbuah berkah dalam ilmunya.

Sejarah sudah banyak menorehkan tintanya atas kesuksesan santri di berbagai bidang. Misalnya, Gus Mus (K.H. Musthofa Bisri) Rembang yang tidak hanya sukses sebagai dai, tapi juga sastrawan yang disegani. Dr. K.H. Said Aqil Siradj juga sukses di bidang keilmuannya, bahkan sekarang dipercaya menjadi Ketua Umum Tanfidz PBNU, sebuah organisasi agama Islam terbesar di dunia. Bahkan, Gus Dur (K.H. Abdurrrahman Wachid) almarhum sukses menjadi orang nomor satu di Republik ini.

Itulah beberapa keunggulan pesantren salaf yang selama ini, menurut saya, belum banyak diketahui. Akibatnya, sebagian masyarakat menganggap pesantren itu kolot, kuno, stagnan, dan stigma negatif lain. Padahal, justru dari pesantrenlah banyak dilahirkan manusia berkualitas sekaligus berintegritas ilmu, akhlak, maupun agamanya.

  • http://ahmadfarieds.blogspot.com/ ahmad faried

    betul…